EN / ID
About Supra

Adopsi Biogas Industri di Indonesia: Integrasi Teknologi, Kerangka Regulasi, dan Transformasi Sektor Manufaktur

Category: Energi
Date: Sep 14th 2025
Adopsi Biogas Industri di Indonesia: Integrasi Teknologi, Kerangka Regulasi, dan Transformasi Sektor Manufaktur

Waktu Baca: 25 menit

Sorotan Utama

• Target Biogas Nasional: Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 menetapkan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) sebesar 489,8 juta m³ biogas pada 2025 dan 1.958,9 juta m³ pada 2050, meskipun hanya 27,86 juta m³ yang tercapai pada 2020[1]

• Potensi Sektor Kelapa Sawit: Pabrik biogas terkompresi terbesar di Asia dengan kapasitas 300 MMBTU/hari mulai beroperasi di Sumatera Utara, berkontribusi pada target nasional 490 juta meter kubik pada 2025 saat produksi biogas Indonesia mencapai 100 juta meter kubik[2]

• Komitmen Energi Terbarukan: Indonesia menargetkan 23% energi terbarukan pada 2025 dan 31% pada 2050, dengan Nationally Determined Contribution yang menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca 29% dari kondisi business-as-usual pada 2030[1]

• Kesuksesan Program Domestik: Program Biogas Rumah Indonesia (BIRU) telah memasang 48.038 instalasi biogas sejak tahun 1970-an, dengan setiap digester mengurangi 2,6 metrik ton karbon setiap tahunnya[3][4]

Ringkasan Eksekutif

Transisi energi Indonesia membuka peluang di mana teknologi biogas menawarkan jalur untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil, memenuhi komitmen iklim, dan mengubah operasi sektor manufaktur melalui integrasi energi terbarukan. Sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia dengan 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit, Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang substansial untuk produksi biogas, dengan limbah kelapa sawit saja merepresentasikan potensi energi setara 57.000 megawatt listrik.[2] Meskipun demikian, kendati memiliki sumber daya yang melimpah dan dukungan kebijakan pemerintah, adopsi biogas menghadapi hambatan persisten terkait biaya teknologi, pengembangan pasar, implementasi regulasi, dan kesadaran pemangku kepentingan yang memerlukan pendekatan sistematis untuk penyelesaiannya.

Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 menetapkan target ambisius untuk kontribusi biogas sebesar 489,8 juta meter kubik pada 2025 dan 1.958,9 juta meter kubik pada 2050. Namun, data dari Direktorat Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa pada 2020 hanya 27,86 juta meter kubik yang tercapai, dengan sebagian besar pemanfaatan biogas terjadi untuk keperluan memasak rumah tangga sementara pembangkit listrik industri skala besar masih terbatas.[1] Kesenjangan implementasi ini menggarisbawahi tantangan yang memerlukan solusi terintegrasi meliputi transfer teknologi, mekanisme pembiayaan, penegakan regulasi, dan penguatan kapasitas pemangku kepentingan. Bagi sektor manufaktur termasuk pengolahan kelapa sawit, produksi makanan dan minuman, serta industri kimia, integrasi biogas menawarkan peluang untuk pengurangan biaya energi, kepatuhan lingkungan, dan positioning kompetitif dalam pasar global yang semakin sadar karbon.

Perkembangan terkini termasuk operasionalisasi fasilitas biogas terkompresi terbesar di Asia di Sumatera Utara menandakan momentum yang berkembang, meskipun pencapaian target nasional menuntut peningkatan investasi, perbaikan mekanisme implementasi, dan komitmen berkelanjutan dari pemangku kepentingan pemerintah dan sektor swasta di seluruh sektor industri Indonesia yang beragam.

Konteks Energi Indonesia dan Potensi Biogas

Struktur konsumsi energi primer Indonesia menunjukkan ketergantungan berat pada bahan bakar fosil, dengan batubara mencakup 38,5%, minyak 32,8%, gas alam 17,4%, dan sumber energi terbarukan termasuk hidroelektrik, geotermal, surya, angin, biofuel, dan biogas hanya mencakup 11,3% dari total konsumsi. Ketergantungan hampir 88% pada sumber energi tak terbarukan ini menciptakan kerentanan terkait keamanan energi, fluktuasi harga internasional, dan kewajiban perubahan iklim. Menanggapi tantangan ini, pemerintah telah menetapkan target untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 23% pada 2025 dan 31% pada 2050 melalui implementasi berbagai inisiatif strategis yang selaras dengan komitmen Paris Agreement.[1]

Nationally Determined Contribution Indonesia menetapkan tujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2030, menargetkan pengurangan 29% dari tingkat business-as-usual melalui kemampuan domestik dan 41% dari business-as-usual dengan bantuan internasional. Biogas sebagai sumber daya hijau memberikan peluang untuk berkontribusi positif pada target NDC ini melalui penggantian konsumsi bahan bakar fosil dan penangkapan emisi metana dari limbah organik yang jika tidak akan terurai melepaskan gas rumah kaca yang kuat ke atmosfer. Dengan fase gasnya, biogas menawarkan kemudahan transportasi dan efisiensi tinggi saat diubah menjadi listrik, sembari menyediakan jalur untuk memanfaatkan limbah organik pertanian dan industri yang saat ini merepresentasikan beban lingkungan.

Potensi Sumber Daya Biogas Indonesia:

Sektor Peternakan:
• Potensi limbah sapi, babi, dan ayam: ~79 triliun watt-jam (TWh)
• Tersebar di area pertanian pedesaan
• Cocok untuk pembangkit terdistribusi skala kecil
• Program biogas domestik yang ada menyediakan model implementasi
• Memerlukan infrastruktur pengumpulan dan logistik

Industri Kelapa Sawit:
• Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai bahan baku utama
• Total potensi bioenergi: setara 57.000 MW
• 60% tandan buah segar menjadi limbah yang dapat diproses
• Terkonsentrasi di pabrik kelapa sawit memungkinkan fasilitas skala besar
• Infrastruktur biogas yang sudah ada di banyak pabrik

Residu Pertanian:
• Jerami padi, batang jagung, dan residu tanaman
• Pola ketersediaan musiman
• Kompetisi dengan penggunaan lain (pakan ternak, kompos)
• Tantangan pengumpulan dan penyimpanan
• Persyaratan pra-pengolahan untuk pencernaan optimal

Limbah Organik Kota dan Industri:
• Limbah pengolahan makanan dari manufaktur
• Limbah organik pasar tradisional
• Fraksi organik limbah padat kota
• Lumpur pengolahan air limbah
• Peluang penangkapan gas TPA

Riset yang mengkaji pengembangan biogas di sektor pembangkit listrik Indonesia menekankan bahwa biogas mengandung 50-70% metana dan 30-50% karbon dioksida dengan nilai kalor 21-24 MJ/Nm³, memungkinkan perubahan untuk mengandung 97% metana sebelum injeksi ke jaringan gas alam. Sistem pembangkit listrik di Jawa, Madura, dan Bali (JAMALI) mencakup sekitar 77% dari total produksi listrik Indonesia, dengan infrastruktur yang berkembang baik meliputi jaringan distribusi dan transmisi yang menjangkau area pedesaan, sehingga menciptakan kondisi menguntungkan untuk integrasi biogas-ke-listrik di mana ketersediaan bahan baku memungkinkan pengembangan proyek yang ekonomis.[6]

Platform Teknologi dan Pendekatan Integrasi

Produksi biogas menggunakan teknologi pencernaan anaerobik di mana mikroorganisme memecah bahan organik dalam lingkungan tertutup yang terdepresi oksigen, menghasilkan metana dan gas lainnya melalui proses biokimia. Platform teknologi bervariasi dalam skala, kompleksitas, dan konteks aplikasi, mulai dari digester kubah tetap rumah tangga sederhana yang memproses beberapa meter kubik substrat per hari hingga fasilitas skala industri yang sophisticated yang memproses ribuan ton bahan baku setiap hari dengan sistem pembersihan gas, kompresi, dan pemanfaatan yang canggih. Untuk aplikasi industri Indonesia, pemilihan teknologi bergantung pada karakteristik bahan baku, tujuan skala produksi, ketersediaan modal, kapasitas operasional, dan jalur pemanfaatan biogas yang dimaksudkan.

Pabrik biogas terkompresi yang beroperasi di Sumatera Utara merepresentasikan kemajuan teknologi yang memungkinkan transportasi biogas ke konsumen industri yang jauh. Fasilitas ini memproses limbah kelapa sawit dengan kapasitas produksi 300 MMBTU per hari, menghasilkan biogas terkompresi yang diangkut melalui truk untuk memasok pabrik oleokimia yang memerlukan bahan bakar industri. Teknologi kompresi ini mengatasi keterbatasan sebelumnya di mana gas metana konsentrasi rendah (40-60%) dari digester pabrik kelapa sawit hanya dapat melayani pembangkit listrik on-site karena volume besar membuat transportasi off-site tidak ekonomis. Biogas terkompresi dengan kualitas dan tekanan terstandarisasi memungkinkan penggantian liquefied petroleum gas (LPG) impor di sektor industri dan komersial, menciptakan peluang pasar baru untuk produsen biogas dan mengurangi ketergantungan impor LPG Indonesia.[2]

Analisis kelayakan ekonomi untuk pembangkit listrik biogas 3 MW yang memanfaatkan 2.700 ton per hari air limbah tapioka menunjukkan internal rate of return sebesar 20,83% dan periode pengembalian 5,01 tahun, dengan perubahan 10% pada harga listrik memengaruhi IRR sekitar 3,7-4,3%. Parameter ekonomi ini menunjukkan bahwa pembangkit listrik biogas dari aliran air limbah industri dapat mencapai viabilitas komersial di bawah kondisi yang sesuai, meskipun ekonomi proyek terbukti sensitif terhadap harga listrik, biaya modal, dan efisiensi operasional yang memerlukan asesmen kelayakan hati-hati untuk aplikasi spesifik.[1]

Integrasi dan Transformasi Industri Kelapa Sawit

Sektor kelapa sawit merepresentasikan konteks aplikasi biogas Indonesia yang paling matang, di mana pabrik telah mengakui peluang untuk memproses Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi energi selama beberapa dekade. POME muncul sebagai produk sampingan dari ekstraksi minyak sawit mentah, dengan 60% tandan buah segar menjadi aliran limbah selama pemrosesan. Banyak perusahaan kelapa sawit telah membangun tangki anaerobik untuk pengolahan POME guna mengurangi dampak lingkungan sembari menangkap biogas untuk pembangkit listrik on-site yang memenuhi kebutuhan daya pabrik. Infrastruktur yang telah mapan ini menyediakan fondasi untuk penskalaan produksi biogas dan eksplorasi jalur pemanfaatan baru termasuk injeksi jaringan, bahan bakar kendaraan, dan pasokan gas industri.

Pabrik biogas terkompresi terbesar di Asia di Kabupaten Langkat menunjukkan potensi transformasi untuk aplikasi biogas sektor kelapa sawit. Kapasitas harian fasilitas sebesar 300 MMBTU menghasilkan BioCNG (Bio Compressed Natural Gas) yang diangkut ke konsumen industri termasuk PT Unilever Oleochemical Indonesia, menggantikan LPG dan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil. Pengembang berencana memperluas hingga 25 pabrik biogas terkompresi dengan memanfaatkan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia dan ketersediaan bahan baku yang melimpah. Deployment skala komersial ini menandakan evolusi industri kelapa sawit dari memandang POME sebagai limbah yang memerlukan pengolahan menuju mengakuinya sebagai sumber daya berharga yang menghasilkan aliran pendapatan sembari mengurangi jejak lingkungan.[2]

Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menekankan bahwa kapasitas limbah kelapa sawit-ke-biogas merepresentasikan komponen penting dari target produksi nasional 490 juta meter kubik pada 2025, dengan total produksi biogas Indonesia saat ini mencapai sekitar 100 juta meter kubik. Potensi biogas terkompresi untuk menggantikan atau memadukan dengan LPG non-subsidi untuk sektor industri dan komersial menciptakan peluang pasar yang dapat mempercepat investasi dalam infrastruktur biogas di seluruh jaringan perkebunan dan pabrik kelapa sawit Indonesia yang ekstensif, yang terdistribusi di Sumatera, Kalimantan, dan wilayah lainnya.

Kerangka Regulasi dan Dukungan Kebijakan

Kerangka regulasi biogas Indonesia mencakup kebijakan energi nasional, target energi terbarukan, regulasi lingkungan, dan program insentif sektor spesifik yang dirancang untuk mempercepat adopsi energi bersih. Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2017 yang menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menyediakan arahan kebijakan dasar, menetapkan target kontribusi biogas spesifik dan mengidentifikasi biogas sebagai sumber energi terbarukan prioritas untuk mencapai tujuan transisi energi nasional. Regulasi ini mengakui potensi biogas di seluruh aplikasi rumah tangga, pertanian, dan industri, meskipun mekanisme implementasi dan sistem dukungan bervariasi signifikan di seluruh skala aplikasi dan sektor.

Regulasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral termasuk Peraturan ESDM No. 12 Tahun 2017 dan Peraturan ESDM No. 12 Tahun 2015 mendorong penggunaan energi terbarukan untuk meningkatkan pendapatan keluarga, pendidikan, dan mata pencaharian sembari menetapkan kerangka untuk pengembangan proyek biogas dan penjualan listrik ke PLN. Regulasi ini mengatur standar teknis, prosedur interkoneksi, struktur tarif, dan persyaratan administratif yang harus dinavigasi pengembang biogas untuk implementasi proyek. Riset yang mengkaji hambatan adopsi biogas skala kecil menekankan bahwa kendala regulasi tetap kurang signifikan dibanding hambatan ekonomi dan teknis, meskipun prosedur birokrasi dan panduan implementasi yang tidak jelas dapat menunda pengembangan proyek dan meningkatkan biaya transaksi.[3]

Kerangka Kebijakan dan Regulasi:

Kerangka Kebijakan Nasional:
• Peraturan Presiden No. 22/2017: target RUEN dan prioritas biogas
• Kebijakan Energi Nasional (KEN): 489,8 juta m³ biogas pada 2025
• Komitmen NDC: pengurangan GRK 29-41% pada 2030
• Target energi terbarukan: 23% pada 2025, 31% pada 2050
• Kewajiban Paris Agreement mendorong pengembangan kebijakan

Regulasi Sektoral:
• Peraturan ESDM No. 12/2017: promosi energi terbarukan
• Peraturan ESDM No. 12/2015: energi terbarukan rumah tangga
• Standar teknis untuk sistem biogas dan keselamatan
• Prosedur interkoneksi jaringan untuk listrik biogas
• Struktur tarif untuk penjualan energi terbarukan ke PLN

Program Insentif:
• Program BIRU: subsidi flat $220 per digester rumah tangga
• Pembiayaan karbon melalui Gold Standard Registry
• Mekanisme feed-in tariff untuk listrik biogas
• Insentif pajak untuk investasi energi terbarukan
• Pembiayaan prioritas dari program investasi hijau

Tantangan Implementasi:
• Kesenjangan antara target kebijakan dan pencapaian aktual
• Prosedur birokrasi yang meningkatkan biaya transaksi
• Kapasitas teknis yang tidak memadai di tingkat pemerintah lokal
• Penegakan regulasi lingkungan yang terbatas
• Isu koordinasi antara otoritas nasional dan regional

Program Biogas Rumah Indonesia (BIRU) menyediakan insentif investasi melalui subsidi flat sebesar $220 per digester, yang menguntungkan petani berpenghasilan rendah sembari memerlukan petani membayar 60-80% dari biaya investasi yang berkisar dari $400 untuk digester 4m³ hingga $1.000 untuk digester 12m³. Program yang terdaftar di Gold Standard Registry ini memungkinkan pembiayaan karbon yang memberikan pendapatan untuk keberlanjutan program jangka panjang. Sejak tahun 1970-an, 48.038 instalasi biogas telah dibangun di bawah berbagai program, dengan BIRU melatih lebih dari 1.000 tukang dan menciptakan pekerjaan berkelanjutan serta bisnis yang mendukung pengembangan sektor biogas.[4] Setiap digester biogas mengurangi 2,6 metrik ton karbon setiap tahunnya, berkontribusi pada upaya mitigasi iklim Indonesia sembari menyediakan bahan bakar memasak bersih untuk rumah tangga pedesaan.

Aplikasi dan Manfaat Sektor Manufaktur

Sektor manufaktur termasuk pengolahan makanan, produksi minuman, manufaktur kimia, dan industri oleokimia menghasilkan aliran limbah organik substansial yang cocok untuk produksi biogas sembari mengonsumsi energi signifikan untuk operasi. Integrasi biogas menawarkan industri ini peluang untuk pengurangan biaya energi melalui pembangkitan on-site, penghematan biaya manajemen limbah melalui integrasi sistem pengolahan, peningkatan kepatuhan lingkungan melalui pengurangan emisi, dan positioning keberlanjutan korporat dalam pasar yang semakin sadar karbon. Proposisi nilai ekonomi menguat di mana industri menghadapi biaya LPG atau bahan bakar diesel tinggi, persyaratan pengolahan air limbah yang ketat, atau permintaan pelanggan untuk jejak karbon yang berkurang di seluruh rantai pasokan.

Manufaktur makanan dan minuman menghasilkan air limbah organik yang memerlukan pengolahan sebelum pembuangan, menciptakan situasi di mana sistem biogas memberikan manfaat ganda berupa pengolahan air limbah dan pembangkitan energi. Riset tentang pengolahan tapioka menunjukkan bahwa sistem biogas yang memproses air limbah industri mencapai return ekonomi yang menarik sembari mengatasi kewajiban lingkungan yang harus dipenuhi industri terlepas dari pemulihan energi. Manufaktur kimia dan oleokimia yang mengonsumsi energi termal substansial untuk pemanasan proses merepresentasikan aplikasi ideal untuk pemanfaatan biogas, khususnya di mana biogas terkompresi dapat mensubstitusi LPG impor dalam sistem burner yang ada dengan modifikasi peralatan minimal. Fasilitas oleokimia Unilever yang menerima biogas terkompresi dari kompleks kelapa sawit Sumatera Utara mencontohkan model aplikasi ini.[2]

Industri tekstil dan kertas dengan aliran air limbah organik dan persyaratan uap serupa mendapat manfaat dari integrasi biogas, meskipun kelayakan teknis dan ekonomi memerlukan asesmen spesifik lokasi yang mempertimbangkan karakteristik bahan baku, profil permintaan energi, infrastruktur yang ada, dan persyaratan regulasi. Untuk fasilitas manufaktur yang berlokasi di mana ketersediaan bahan baku biogas melebihi kapasitas pemanfaatan on-site, peluang ada untuk memasok kelebihan biogas ke tetangga melalui sistem pipa atau pengiriman gas terkompresi, menciptakan hub biogas yang melayani kawasan industri atau klaster manufaktur. Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan fasilitas yang lebih kecil mengakses manfaat biogas tanpa berinvestasi dalam infrastruktur digester, sementara produsen biogas mencapai ekonomi skala yang meningkatkan ekonomi proyek.

Hambatan Ekonomi dan Mekanisme Keuangan

Biaya investasi awal yang tinggi merepresentasikan hambatan utama yang membatasi adopsi biogas di antara fasilitas industri dan rumah tangga pedesaan. Meskipun biaya operasional terbukti kompetitif dengan alternatif bahan bakar fosil, persyaratan modal untuk konstruksi digester, peralatan penanganan gas, dan sistem pemanfaatan menciptakan tantangan pembiayaan khususnya untuk usaha kecil dan menengah dengan akses terbatas ke modal. Riset yang mengkaji hambatan teknologi, ekonomi, sosial, dan lingkungan terhadap adopsi biogas menekankan bahwa kurangnya dana merepresentasikan alasan paling umum untuk tidak mendirikan instalasi biogas, dengan subsidi yang tidak memadai, program dukungan keuangan, dan pinjaman lunak yang dianggap sebagai kendala ekonomi fundamental di negara berkembang.[3]

Mekanisme keuangan yang mengatasi hambatan modal meliputi program subsidi pemerintah yang menyediakan hibah investasi, program pinjaman bank pembangunan yang menawarkan pembiayaan konsesi, pembiayaan karbon yang menyediakan aliran pendapatan dari pengurangan emisi, dan model leasing peralatan atau perusahaan jasa energi yang memungkinkan adopsi biogas tanpa modal awal. Subsidi $220 per digester rumah tangga program BIRU menunjukkan kesediaan pemerintah untuk mendukung adopsi biogas, meskipun proyek skala industri memerlukan mekanisme dukungan keuangan yang jauh lebih besar mengingat persyaratan modal jutaan dolar mereka. Sektor publik dan swasta harus mengembangkan strategi investasi nasional dengan modal yang memadai dan biaya investasi tinggi yang diatasi melalui blended finance yang mengombinasikan hibah publik, utang konsesi, dan investasi komersial yang terstruktur untuk mencapai return yang disesuaikan risiko yang sesuai.

Pertimbangan Keuangan dan Ekonomi:

Komponen Biaya Modal:
• Konstruksi digester dan sistem penanganan substrat
• Peralatan pengumpulan, penyimpanan, dan kompresi gas
• Pembersihan dan pemurnian gas untuk persyaratan penggunaan akhir
• Peralatan pembangkitan listrik atau pemanfaatan termal
• Balance of plant termasuk utilitas dan infrastruktur

Elemen Biaya Operasional:
• Pengumpulan, transportasi, dan pra-pengolahan bahan baku
• Operasi, monitoring, dan pemeliharaan sistem
• Penanganan dan pembuangan atau pemanfaatan digestate
• Utilitas termasuk listrik dan air untuk operasi
• Tenaga kerja untuk operasi dan manajemen fasilitas

Aliran Pendapatan:
• Penjualan energi atau biaya pembelian bahan bakar yang terhindarkan
• Penghindaran biaya pengolahan limbah atau penghematan biaya tipping
• Penjualan kredit karbon dari pengurangan emisi
• Penjualan digestate sebagai pupuk atau amandemen tanah
• Penghindaran biaya kepatuhan lingkungan

Mekanisme Pembiayaan:
• Program hibah dan subsidi pemerintah
• Pinjaman konsesi bank pembangunan
• Pembiayaan proyek bank komersial
• Pembiayaan karbon dan dukungan dana iklim
• Model leasing peralatan dan perusahaan jasa energi

Pembiayaan karbon melalui mekanisme termasuk Gold Standard Registry menyediakan aliran pendapatan tambahan yang mendukung ekonomi proyek biogas. Dengan setiap digester mengurangi 2,6 metrik ton karbon setiap tahunnya, fasilitas skala industri yang memproses ribuan ton bahan baku setiap hari menghasilkan pengurangan emisi substansial yang dapat dimonetisasi melalui penjualan kredit karbon ke korporasi dan pemerintah yang berupaya mengoffset emisi. Pembiayaan iklim dari sumber internasional termasuk Green Climate Fund dan lembaga pembangunan bilateral menyediakan pendanaan hibah dan pinjaman konsesi untuk proyek biogas yang berkontribusi pada mitigasi iklim dan tujuan pembangunan berkelanjutan di negara berkembang termasuk Indonesia.

Tantangan Teknis dan Penguatan Kapasitas

Hambatan teknis terhadap adopsi biogas mencakup tantangan terkait variabilitas bahan baku, optimalisasi proses, keandalan peralatan, dan keahlian operasional. Hasil biogas bergantung pada komposisi bahan baku, dengan material berkonten organik tinggi menghasilkan lebih banyak gas dibanding substrat yang sangat encer atau terkontaminasi. Bahan baku pertanian dan industri Indonesia menunjukkan variabilitas musiman dalam ketersediaan dan komposisi, menciptakan tantangan operasional untuk produksi biogas berkelanjutan kecuali fasilitas menggabungkan penyimpanan bahan baku, pencampuran, atau strategi sumber substrat alternatif. Optimalisasi proses memerlukan pemahaman prinsip mikrobiologi, kimia, dan rekayasa yang banyak adopter potensial tidak miliki, sehingga perlu program bantuan teknis dan penguatan kapasitas.

Kekhawatiran keandalan peralatan muncul di mana sistem biogas menggunakan komponen yang tidak cocok untuk lingkungan tropis, kondisi biogas yang korosif, atau siklus tugas industri yang menuntut. Pengalaman dengan sistem yang dirancang buruk yang mengalami kegagalan prematur menghambat adopsi dan menghasilkan skeptisisme mengenai viabilitas teknologi biogas. Mengembangkan kelompok ahli biogas yang dapat menawarkan desain sistem yang sesuai untuk situasi spesifik dan menyiapkan manual untuk produsen biogas gunakan sebagai pedoman merepresentasikan persyaratan penguatan kapasitas yang penting. Program pelatihan untuk tukang, teknisi, dan operator yang memastikan konstruksi berkualitas dan operasi andal terbukti esensial untuk pengembangan pasar, sebagaimana pelatihan program BIRU terhadap lebih dari 1.000 tukang yang mendukung ekspansi biogas rumah tangga.[4]

Riset menekankan bahwa kurangnya informasi komprehensif mengenai potensi bahan baku, teknologi konversi, pemurnian, dan sistem konversi menjadi listrik membatasi pemanfaatan biogas skala besar untuk pembangkit listrik. Universitas, lembaga riset, dan pusat pelatihan teknis memainkan peran penting dalam membangun basis pengetahuan, melatih profesional, dan melakukan riset yang mengatasi tantangan teknis spesifik Indonesia. Asosiasi industri memfasilitasi pertukaran pengetahuan di antara produsen biogas, produsen peralatan, dan pengguna akhir, sementara lembaga pemerintah menyediakan standar teknis, program sertifikasi, dan kerangka jaminan kualitas yang memastikan keselamatan dan kinerja sistem.

Dimensi Sosial dan Budaya

Penerimaan sosial dan faktor budaya memengaruhi adopsi biogas di samping pertimbangan teknis dan ekonomi. Riset yang mengkaji kendala sosio-ekonomi mengidentifikasi stigmatisasi dan skeptisisme di antara pengguna potensial yang memengaruhi penetrasi pasar. Untuk konteks Islam termasuk Indonesia, kekhawatiran muncul mengenai energi yang dihasilkan dari digestate yang mengandung kotoran babi, menciptakan kendala pada sumber bahan baku dan pengembangan pasar di wilayah tertentu. Memahami dan menghormati sensitivitas budaya sembari menunjukkan kompatibilitas biogas dengan nilai religius terbukti penting untuk mencapai penerimaan sosial yang luas.

Pengalaman masyarakat dengan teknologi biogas membentuk persepsi dan kesediaan untuk mengadopsi. Kisah sukses adopter awal memengaruhi keputusan tetangga, menciptakan efek yang mempercepat difusi. Di desa Minggir dekat Yogyakarta, seorang sopir di Yayasan Rumah Energi awalnya menghadapi ejekan karena mengumpulkan kotoran kambing dan burung puyuh, namun produksi biogas suksesnya menginspirasi tetangga untuk meminta bantuan memasang infrastruktur biogas, menciptakan momentum di mana adopsi biogas menjadi normal dalam komunitas. Proses sosial ini menyoroti pentingnya demonstrasi yang terlihat, pembelajaran sejawat, dan champion komunitas dalam difusi teknologi.[5]

Meningkatkan partisipasi publik, minat konsumen, dan penerimaan untuk mengadopsi biogas, khususnya di komunitas pedesaan, memerlukan penanganan tantangan sosio-budaya melalui edukasi, proyek demonstrasi, dan proses keterlibatan masyarakat. Pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah memainkan peran dalam memfasilitasi dialog masyarakat, menyediakan bantuan teknis, dan mendukung adopter awal yang berfungsi sebagai model bagi tetangga. Untuk aplikasi biogas industri, melibatkan komunitas di sekitar fasilitas, mengatasi kekhawatiran tentang bau atau lalu lintas, dan mengomunikasikan manfaat lingkungan membangun social license to operate sembari berpotensi merekrut karyawan dari populasi lokal.

Pengembangan Pasar dan Rantai Nilai

Pengembangan pasar biogas di Indonesia memerlukan pembentukan rantai nilai yang menghubungkan pemasok bahan baku, produsen biogas, sistem distribusi, dan pengguna akhir dalam pasar fungsional dengan sinyal harga yang sesuai, standar kualitas, dan kerangka kontrak. Saat ini, sebagian besar produksi biogas terjadi untuk penggunaan captive oleh produsen, dengan pasar terbatas untuk penjualan biogas ke pihak ketiga. Fasilitas biogas terkompresi di Sumatera Utara merepresentasikan model komersial yang berkembang di mana produsen biogas menjual gas ke konsumen industri melalui distribusi berbasis truk, menciptakan template untuk sistem biogas berbasis pasar yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia di mana kondisi serupa ada.[2]

Pengembangan pasar memerlukan penanganan kesenjangan infrastruktur termasuk fasilitas kompresi gas, sistem transportasi, dan jaringan distribusi yang memungkinkan biogas mencapai konsumen secara efisien. Untuk penjualan listrik biogas ke PLN, prosedur interkoneksi, negosiasi tarif, dan power purchase agreement menciptakan biaya transaksi dan ketidakpastian yang harus dinavigasi pengembang. Menetapkan kontrak terstandarisasi, prosedur persetujuan yang efisien, dan metodologi tarif transparan akan mengurangi hambatan dan mempercepat pertumbuhan pasar. Pasar digestate untuk aplikasi pupuk pertanian tetap kurang berkembang, meskipun digestate merepresentasikan co-product berharga yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan sembari menyediakan petani sumber nutrisi terjangkau yang menggantikan pupuk sintetik.

Sektor manufaktur peralatan biogas termasuk kompor, lampu, dan peralatan lain merepresentasikan komponen rantai nilai yang penting. Dukungan program BIRU untuk manufaktur lokal menghasilkan 64 organisasi konstruksi dan tiga organisasi manufaktur yang bekerja dalam program, dengan hampir semua peralatan biogas kini diproduksi secara lokal. Kapasitas manufaktur domestik ini mengurangi biaya, meningkatkan ketersediaan, dan memungkinkan kustomisasi ke kondisi Indonesia dibanding mengimpor peralatan. Investasi berkelanjutan dalam kapasitas manufaktur, transfer teknologi, dan inovasi lokal akan memperkuat ekosistem industri biogas Indonesia sembari menciptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi.

Manfaat Lingkungan dan Life Cycle Assessment

Sistem biogas menghasilkan manfaat lingkungan yang meluas di berbagai dimensi termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan kualitas udara, pencegahan polusi air, dan manajemen limbah berkelanjutan. Setiap digester biogas yang mengurangi 2,6 metrik ton karbon setiap tahunnya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penggantian konsumsi bahan bakar fosil dan penangkapan metana yang jika tidak akan terlepas dari limbah organik yang terurai. Pada produksi biogas tahunan Indonesia saat ini sebesar 100 juta meter kubik, total pengurangan emisi melebihi 200.000 ton karbon setiap tahunnya, dengan potensi ekspansi enorm saat produksi berskala menuju target nasional 490 juta meter kubik.

Riset life cycle assessment yang mengkaji sistem biogas di Indonesia mengevaluasi dampak lingkungan di seluruh masa pakai sistem dengan mempertimbangkan produksi bahan baku, pengumpulan dan transportasi, proses pencernaan anaerobik, pemanfaatan biogas, dan manajemen digestate. Temuan mengindikasikan bahwa sistem biogas umumnya mencapai manfaat lingkungan bersih dibanding manajemen limbah konvensional dan penggunaan bahan bakar fosil, meskipun hasil spesifik bergantung pada desain sistem, sumber bahan baku, jalur pemanfaatan, dan kondisi lokal. Mengoptimalkan sistem biogas untuk manfaat lingkungan maksimum memerlukan perhatian pada logistik bahan baku yang meminimalkan emisi transportasi, konversi biogas efisien yang memaksimalkan pemulihan energi, dan pemanfaatan digestate yang menangkap nilai nutrisi sembari menghindari kontaminasi.

Manfaat kualitas udara muncul di mana biogas menggantikan minyak tanah, diesel, atau pembakaran biomassa tradisional untuk memasak atau pembangkit listrik. Polusi udara dalam ruangan dari bahan bakar memasak tradisional menyebabkan diperkirakan 165.000 kematian prematur setiap tahunnya di Indonesia, dengan biogas menyediakan alternatif bersih yang mengeliminasi paparan asap untuk rumah tangga. Aplikasi industri yang mensubstitusi biogas untuk batubara atau diesel mengurangi particulate matter, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan emisi volatile organic compound yang meningkatkan kualitas udara lokal dan regional. Peningkatan kualitas air terjadi di mana sistem biogas mengolah air limbah organik yang mencegah polusi sungai dan air tanah yang akan dihasilkan dari pembuangan yang tidak diolah.

Pandangan Masa Depan dan Rekomendasi Strategis

Sektor biogas Indonesia berada di posisi di mana program rumah tangga yang mapan, proyek skala industri yang berkembang, dan dukungan kebijakan yang menguat menciptakan fondasi untuk pertumbuhan yang dipercepat. Mencapai target nasional 490 juta meter kubik pada 2025 dan 1.958,9 juta meter kubik pada 2050 memerlukan komitmen berkelanjutan, peningkatan investasi, dan aksi terkoordinasi di seluruh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Untuk sektor manufaktur, integrasi biogas merepresentasikan peluang strategis untuk manajemen biaya energi, peningkatan kinerja lingkungan, dan positioning dalam pasar yang berevolusi yang semakin menghargai keberlanjutan.

Aksi prioritas yang direkomendasikan meliputi penskalaan model sukses termasuk program rumah tangga BIRU dan fasilitas biogas terkompresi Sumatera ke wilayah dan sektor tambahan, menetapkan klaster industri biogas di kompleks kelapa sawit, zona pengolahan makanan, dan kawasan manufaktur yang memungkinkan ekonomi skala, mengembangkan spesifikasi teknis terstandarisasi dan standar kualitas yang mengurangi biaya dan risiko pengembangan proyek, mengimplementasikan insentif keuangan yang ditargetkan termasuk hibah, pinjaman konsesi, dan pembiayaan karbon untuk proyek tahap awal, membangun kapasitas teknis melalui program pelatihan, kurikulum universitas, dan platform pertukaran pengetahuan, memperkuat implementasi regulasi melalui prosedur yang jelas, kepegawaian yang memadai, dan mekanisme penegakan, dan melakukan riset yang mengatasi tantangan teknis spesifik Indonesia termasuk dampak iklim tropis, karakteristik bahan baku lokal, dan optimalisasi teknologi skala kecil.

Kerja sama internasional menyediakan akses ke teknologi canggih, pembiayaan, dan keahlian yang mempercepat pengembangan biogas Indonesia. Kemitraan bilateral dengan negara termasuk Jerman dan Swedia yang memiliki sektor biogas matang memfasilitasi transfer teknologi dan penguatan kapasitas. Inisiatif multilateral melalui organisasi termasuk Asian Development Bank, World Bank, dan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa memobilisasi pembiayaan iklim yang mendukung infrastruktur biogas sembari memajukan tujuan pembangunan berkelanjutan. Untuk perusahaan Indonesia, berpartisipasi dalam asosiasi industri, terlibat dengan penyedia layanan teknis, dan berkolaborasi dengan lembaga riset membangun kapabilitas yang memungkinkan implementasi proyek biogas yang sukses.

Kesimpulan

Adopsi biogas industri di Indonesia menawarkan peluang untuk transisi energi, transformasi sektor manufaktur, dan mitigasi iklim melalui integrasi teknologi yang mengatasi keamanan sumber daya, keberlanjutan lingkungan, dan daya saing ekonomi. Kendati memiliki sumber daya yang menguntungkan termasuk limbah kelapa sawit yang ekstensif, kotoran ternak, dan residu organik industri, pengembangan biogas menghadapi hambatan persisten terkait persyaratan modal, kapasitas teknis, struktur pasar, dan koordinasi kelembagaan yang memerlukan solusi sistematis. Perkembangan terkini termasuk fasilitas biogas terkompresi terbesar di Asia dan kerangka kebijakan yang menguat menciptakan momentum untuk adopsi yang dipercepat, meskipun pencapaian target nasional menuntut peningkatan investasi, perbaikan implementasi, dan komitmen berkelanjutan dari pemangku kepentingan pemerintah dan sektor swasta.

Untuk perusahaan manufaktur, integrasi biogas menyediakan kapabilitas strategis yang mendukung manajemen biaya energi, kepatuhan lingkungan, dan tujuan keberlanjutan korporat dalam pasar yang semakin sadar karbon. Kesuksesan memerlukan asesmen kelayakan yang hati-hati, pemilihan teknologi yang sesuai, pembiayaan yang memadai, dukungan teknis yang kompeten, dan keterlibatan pemangku kepentingan yang efektif. Seiring Indonesia memajukan transisi energi yang selaras dengan komitmen Paris Agreement dan tujuan pembangunan berkelanjutan, biogas muncul sebagai jalur energi terbarukan penting yang berkontribusi pada dekarbonisasi sembari menghasilkan nilai ekonomi dari sumber daya limbah yang sebelumnya merepresentasikan beban lingkungan. Perusahaan yang mengadopsi biogas memposisikan diri mereka secara menguntungkan untuk daya saing jangka panjang dalam sektor energi dan manufaktur Indonesia yang berevolusi.

Referensi

1. ScienceDirect. Biogas potential for sustainable power generation in Indonesia: opportunity and techno-economic analysis.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2589014X25001252

2. GAPKI. Asia's Largest Biogas Plant Starts Production In Sumut.
https://gapki.id/en/news/2024/01/25/asias-largest-biogas-plant-starts-production-in-sumut/

3. MDPI Energies. Technological, Economic, Social and Environmental Barriers to Adoption of Small-Scale Biogas Plants: Case of Indonesia.
https://www.mdpi.com/1996-1073/15/14/5105

4. Hivos. Biogas Indonesia - BIRU Programme.
https://hivos.org/program/biogas-indonesia/

5. Mongabay. Chauffeur at Indonesia energy nonprofit drives uptake of biogas by Java farmers.
https://news.mongabay.com/2025/03/chauffeur-at-indonesia-energy-nonprofit-drives-uptake-of-biogas-by-java-farmers/

6. ScienceDirect. The biogas development in the Indonesian power generation sector.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2211464517300787

7. Yayasan Rumah Energi. Indonesia Domestic Biogas Program Annual Report 2019.
https://www.rumahenergi.org/wp-content/uploads/2020/11/AnnualReport-YRE-2019.pdf

8. Encyclopedia MDPI. Barriers of Small-Scale Biogas Plants in Indonesia.
https://encyclopedia.pub/entry/25462

Pengembangan Proyek Biogas Industri dan Layanan Konsultasi

SUPRA International menyediakan layanan konsultasi komprehensif untuk pengembangan sistem biogas industri, asesmen kelayakan, pemilihan teknologi, dan kepatuhan regulasi. Tim kami mendukung fasilitas manufaktur, pabrik kelapa sawit, perusahaan pengolahan makanan, dan pengembang industri di berbagai bidang mulai dari desain proyek biogas, strategi pembiayaan, perizinan lingkungan, hingga optimalisasi operasional untuk integrasi energi berkelanjutan dalam konteks Indonesia.

Butuh panduan ahli untuk pengembangan proyek biogas industri?
Konsultasikan kebutuhan asesmen kelayakan biogas dan perencanaan implementasi Anda dengan kami

Share:

← Previous Next →

Jika Anda menghadapi tantangan dalam air, limbah, atau energi, SUPRA siap mendukung. Tim kami membantu meningkatkan keandalan, memastikan kepatuhan, meningkatkan efisiensi, dan mengendalikan biaya. Bersama, kita menentukan fase layanan lifecycle yang paling sesuai untuk kebutuhan proyek Anda.