EN / ID
About Supra

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia: Analisis Teknis Potensi Energi Angin, Performa Teknologi, Perkembangan Industri, dan Tantangan Implementasi

Category: Energi
Date: Oct 4th 2025
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia: Analisis Teknis Potensi Energi Angin, Performa Teknologi, Perkembangan Industri, dan Tantangan Implementasi

Waktu Baca: 29 menit

Sorotan Utama

• Potensi Energi Angin yang Masif: Indonesia memiliki total potensi energi angin sebesar 154,6 GW yang terdiri dari 60,4 GW potensi darat dan 94,2 GW potensi laut, namun pemanfaatan saat ini baru mencapai 135 MW atau kurang dari 0,1% dari sumber daya yang tersedia[1]

• Teknologi Modern Bereffisiensi Tinggi: Turbin angin sumbu horizontal modern yang menggunakan airfoil NACA 0015 mampu mencapai koefisien daya 0,45 atau efisiensi 45% yang mendekati Betz Limit teoritis sebesar 59,3%, dengan kemampuan menghasilkan 2.547 kW pada kecepatan angin 9,5 m/s untuk turbin berkapasitas 2,5 MW[2]

• Reduksi Emisi Karbon yang Signifikan: Pembangkit listrik tenaga bayu mampu mengurangi emisi CO₂ sebesar 2.049,8 ton per tahun untuk setiap 2.891 MWh listrik yang dihasilkan, setara dengan 4.672 barel minyak mentah yang tidak dikonsumsi, mendukung target net zero emission Indonesia di tahun 2050[3]

• Kelayakan Ekonomi yang Terbukti: Analisis kelayakan finansial untuk proyek pembangkit listrik tenaga bayu 1,65 MW menunjukkan NPV sebesar USD 2.197.870 dengan pre-tax equity IRR 28,8% dan periode pengembalian modal 5,5 tahun, membuktikan kelayakan investasi dengan tarif listrik di bawah 85% biaya pembangkitan regional[3]

Ringkasan Eksekutif

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) merupakan teknologi pembangkitan listrik terbarukan yang memanfaatkan energi kinetik angin untuk dikonversi menjadi energi listrik melalui turbin angin dan generator.[5] Indonesia sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sepanjang 81.950 km memiliki potensi energi angin yang substansial namun masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sektor pembangkit listrik Indonesia saat ini masih didominasi oleh batubara yang menyumbang 67,21% dari total bauran energi primer pada tahun 2022, mendorong pemerintah untuk secara agresif mengimplementasikan energi terbarukan sebagai solusi mencapai target emisi karbon nol pada tahun 2050 sesuai komitmen Paris Agreement.[14]

Keunggulan teknis pembangkit listrik tenaga bayu mencakup teknologi ramah lingkungan dengan emisi operasional nol, efisiensi turbin modern mencapai 45% yang mendekati Betz Limit teoritis, kemampuan menghasilkan energi dengan biaya operasional minimal pasca instalasi, serta fleksibilitas dalam skala kapasitas dari kilowatt hingga megawatt.[2] Potensi nasional mencapai 154,6 GW dengan wilayah prospektif meliputi Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.[8] PLTB Sidrap 75 MW dan PLTB Jeneponto 60 MW di Sulawesi Selatan telah beroperasi komersial sejak 2018, membuktikan keberhasilan implementasi teknologi di Indonesia. Pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit listrik tenaga bayu mencapai 255 MW pada tahun 2025 dan 5 GW pada tahun 2030 melalui rencana usaha penyediaan tenaga listrik nasional.[13]

Artikel ini menganalisis teknologi pembangkit listrik tenaga bayu dari perspektif teknis, ekonomi, dan praktis untuk memberikan pemahaman komprehensif bagi profesional engineering, facility manager, investor energi, dan pengambil keputusan lingkungan dalam evaluasi teknologi dan strategi implementasi proyek pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia.

Prinsip Dasar Energi Angin dan Cara Kerja

Angin merupakan udara yang bergerak dari tekanan tinggi menuju tekanan rendah akibat dari pemanasan permukaan bumi yang tidak merata oleh radiasi matahari. Perbedaan suhu dan tekanan udara antara wilayah yang menerima energi panas lebih besar dengan yang lebih sedikit menciptakan aliran udara atau angin. Energi kinetik dalam massa udara yang bergerak dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui sistem turbin angin. Potensi energi angin Indonesia dengan kecepatan rata-rata sekitar 3-5 m/s dan total kapasitas pembangkitan 9.290 MW merupakan sumber energi yang substansial, mengingat pemanfaatan saat ini baru mencapai 1% dari potensi yang ada.[1]

Sistem pembangkit listrik tenaga bayu terdiri dari beberapa komponen terintegrasi yang bekerja bersama mengkonversi energi angin menjadi listrik. Turbin angin sebagai komponen utama memiliki rotor dengan bilah yang berputar saat terkena angin. Rotor terhubung ke generator melalui gearbox yang meningkatkan kecepatan rotasi dari rotor ke generator. Generator mengkonversi energi rotasi mekanis menjadi energi listrik. Menara memposisikan turbin pada ketinggian optimal untuk menangkap angin dengan kecepatan lebih tinggi. Sistem kontrol mengatur operasi turbin termasuk orientasi bilah dan kecepatan rotasi yang menyesuaikan dengan kondisi angin. Transformator meningkatkan tegangan listrik dari generator untuk transmisi ke jaringan distribusi.[6]

Konversi energi angin berlangsung melalui dua tahap utama. Pertama, aliran angin menggerakkan bilah rotor sehingga menyebabkan rotasi yang sinkron dengan kecepatan angin. Desain aerodinamis bilah yang menggunakan prinsip airfoil menciptakan gaya angkat dari perbedaan tekanan antara permukaan atas dan bawah bilah, menghasilkan torsi yang memutar rotor. Kedua, rotasi rotor terhubung ke generator melalui gearbox yang memungkinkan pembangkitan listrik. Energi listrik yang dihasilkan kemudian ditransmisikan ke jaringan distribusi atau disimpan dalam sistem penyimpanan energi untuk stabilitas pasokan.[9]

Spesifikasi Teknis dan Parameter Operasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu:


Parameter Kecepatan Angin:
• Cut-in speed: 3-4 m/s (kecepatan minimum memulai rotasi)
• Rated speed: 12-15 m/s (kecepatan optimal untuk daya nominal)
• Cut-out speed: 25 m/s (kecepatan maksimum untuk keamanan)
• Rata-rata kecepatan angin Indonesia: 2-6 m/s nasional
• Wilayah prospektif: 5-8 m/s (Indonesia Timur)
• Klasifikasi kelas angin: Kelas III-IV (Low Wind Speed)
• Metode pengukuran: Distribusi Weibull dan remote sensing satelit

Karakteristik Turbin Angin:
• Tipe: Horizontal Axis Wind Turbine (HAWT) 3-bilah
• Diameter rotor: 80-120 m untuk turbin kelas MW
• Tinggi menara: 60-90 m (0,75 x diameter rotor)
• Swept area: 5.000-11.000 m²
• Tip speed ratio: 5-7 untuk turbin 3-bilah
• Koefisien daya (Cp): 0,40-0,45 (efisiensi 40-45%)
• Batas teoritis: 0,593 (Betz Limit)

Kapasitas dan Output Energi:
• Skala kecil: 1-100 kW (aplikasi area terpencil)[7]
• Skala menengah: 100 kW-1 MW (industri/komersial)
• Skala besar: 1-5 MW (utility scale/komersial)
• Faktor kapasitas: 20-30% di Indonesia
• Produksi energi tahunan: 1.500-2.500 MWh per MW terpasang
• Jam operasional: 2.000-3.000 jam/tahun setara beban penuh
• Umur operasi: 20-25 tahun dengan pemeliharaan proper

Formula perhitungan energi angin fundamental sangat penting untuk desain pembangkit listrik tenaga bayu. Energi kinetik angin dihitung sebagai E = ½mv² di mana m merepresentasikan massa udara dan v kecepatan angin. Massa udara yang melewati area sapuan turbin dihitung sebagai m = A·v·ρ dengan A adalah area sapuan, v kecepatan angin, dan ρ densitas udara (1,225 kg/m³ pada permukaan laut). Daya teoritis yang tersedia dari angin adalah P = ½ρ·A·v³. Daya turbin aktual Pactual = ½·Cp·ρ·A·v³ di mana Cp merepresentasikan koefisien daya turbin. Untuk sistem lengkap dengan losses, output daya Psystem = 0,1454·v³ (watt/m²) berfungsi sebagai aturan praktis untuk estimasi produksi energi.

Keunggulan Teknologi Dibandingkan Pembangkitan Konvensional

Pembangkit listrik tenaga bayu memberikan keuntungan lingkungan yang signifikan dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Operasi pembangkit listrik tenaga bayu menghasilkan emisi gas rumah kaca nol, tidak ada polusi udara dari pembakaran, dan tidak ada limbah padat atau cair berbahaya. Riset menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga bayu mengurangi emisi CO₂ sebesar 2.049,8 ton per tahun untuk setiap 2.891 MWh listrik yang diproduksi, setara dengan menghindari konsumsi 4.672 barel minyak mentah.[3] Dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga batubara yang menghasilkan 800-1.000 gram CO₂ per kWh, pembangkit listrik tenaga bayu hanya menghasilkan emisi minimal dari proses manufaktur dan instalasi yang terdistribusi sepanjang masa operasional 20-25 tahun.[10]

Efisiensi energi dan performa teknis modern membedakan pembangkit listrik tenaga bayu dari teknologi konvensional. Turbin angin sumbu horizontal tiga bilah yang menggunakan airfoil NACA 0015 mencapai koefisien daya 0,45 atau efisiensi 45%, mendekati Betz Limit maksimum teoritis sebesar 59,3%.[2] Riset pada desain turbin berkapasitas 2,5 MW menunjukkan turbin menghasilkan daya rata-rata 750 kW pada kecepatan angin 6,4 m/s dan mencapai daya nominal 2.547 kW pada kecepatan angin 9,5 m/s. Efisiensi ini tetap konsisten untuk daya rata-rata maupun nominal, membuktikan keandalan desain. Dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga batubara yang memiliki efisiensi 35-40%, pembangkit listrik tenaga bayu menunjukkan kinerja yang kompetitif dengan keuntungan tidak memerlukan bahan bakar.

Modularitas dan skalabilitas memberikan keuntungan strategi deployment. Pembangkit listrik tenaga bayu dapat dibangun dalam skala kecil 1-5 MW untuk kebutuhan lokal kemudian menambah kapasitas sesuai pertumbuhan permintaan. Konstruksi bertahap mengurangi risiko investasi yang memungkinkan proof-of-concept sebelum ekspansi besar. Pembangkit listrik konvensional memerlukan skala ekonomis minimum 50-100 MW untuk kelayakan, menciptakan hambatan masuk yang tinggi. Pembangkit listrik tenaga bayu dengan distributed generation cocok untuk elektrifikasi area terpencil di Indonesia yang sulit dijangkau jaringan.[5] Kombinasi aplikasi grid-connected dan off-grid memberikan fleksibilitas yang tidak tersedia dari pembangkit besar konvensional, termasuk aplikasi inovatif untuk kapal laut dan infrastruktur pesisir.[12]

Potensi Energi Angin dan Pemetaan Lokasi di Indonesia

Indonesia memiliki total potensi energi angin sebesar 154,6 GW yang terdiri dari 60,4 GW potensi darat (onshore) dan 94,2 GW potensi laut (offshore). Distribusi potensi tidak merata dengan konsentrasi tertinggi di wilayah Indonesia Timur. Berdasarkan survei Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) pada dua puluh lokasi, kecepatan angin rata-rata tahunan Indonesia berkisar 2-6 m/s. Beberapa wilayah Indonesia Timur memiliki kecepatan angin rata-rata 5-8 m/s, memenuhi kriteria ekonomis untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu komersial. Metode analisis menggunakan distribusi Weibull untuk prediksi kecepatan angin secara statistik dan remote sensing satelit untuk estimasi potensi wilayah luas.[8]

Sulawesi Selatan menjadi pelopor pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu komersial di Indonesia dengan kesuksesan yang terbukti. PLTB Sidrap berkapasitas 75 MW di Kabupaten Sidenreng Rappang telah beroperasi sejak 2018 sebagai pembangkit listrik tenaga bayu komersial berskala besar pertama di Indonesia. Lokasi di perbukitan Desa Mattirosari dan Lainungan, Kecamatan Watangpulu memiliki karakteristik angin yang konsisten dengan kecepatan 7,5-8 m/s. PLTB Jeneponto berkapasitas 60 MW dengan investasi USD 150 juta memulai operasi komersial 2018-2020, menghasilkan rata-rata 198,6 GWh per tahun.[4] Kesuksesan kedua proyek membuktikan kelayakan teknis dan ekonomis pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia, mendorong pengembangan proyek baru di wilayah lain.

Nusa Tenggara Barat khususnya Kota Bima memiliki potensi energi angin yang sangat baik dengan kecepatan rata-rata 6,4 m/s, terklasifikasi sebagai kelas angin 4 menurut skala Beaufort. Riset desain turbin untuk wilayah ini menunjukkan turbin berkapasitas 2,5 MW menghasilkan daya rata-rata 750 kW dan mencapai daya nominal pada kecepatan angin 9,5 m/s.[2] Lokasi geografis Nusa Tenggara Barat di Indonesia Timur dengan topografi perbukitan dekat pantai memberikan karakteristik angin yang optimal.

Jawa Timur khususnya Banyuwangi menjadi lokasi strategis untuk pembangkit listrik tenaga bayu pertama di Pulau Jawa dengan target kapasitas 50 MW. Pemilihan lokasi mempertimbangkan karakteristik angin yang konsisten, kedekatan dengan pusat beban sistem Jawa-Bali, dan infrastruktur jaringan yang sangat baik.[11] PLTB Banyuwangi diharapkan dapat mengkatalisis perkembangan energi angin di Pulau Jawa yang selama ini didominasi oleh pembangkitan fosil dan panas bumi.[15]

Perkembangan Industri dan Penggerak Pertumbuhan

Komitmen pemerintah Indonesia terhadap energi terbarukan menjadi pendorong utama pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu. Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional menetapkan target energi terbarukan minimum 23% pada tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 menargetkan 51,6% dari total penambahan kapasitas 40,6 GW berasal dari energi terbarukan.[13] Target spesifik pembangkit listrik tenaga bayu mencapai 255 MW pada tahun 2025 dan 5 GW pada tahun 2030, meningkat signifikan dari 135 MW yang ada saat ini.

Kebutuhan diversifikasi energi mendorong eksplorasi sumber terbarukan termasuk pembangkit listrik tenaga bayu. Ketergantungan Indonesia pada batubara sebesar 67,21% dari bauran energi primer menciptakan risiko dari volatilitas harga, gangguan rantai pasokan, dan kewajiban lingkungan.[14] Rasio elektrifikasi mencapai 75,83% pada tahun 2012 dengan 25% rumah tangga tidak memiliki akses listrik, terutama di area terpencil dan pulau-pulau. Pembangkit listrik tenaga bayu dengan distributed generation memberikan solusi elektrifikasi area terpencil yang tidak ekonomis untuk ekstensi jaringan.

Kapasitas domestik meningkat melalui transfer pengetahuan dan pengembangan konten lokal. Keterlibatan lokal dalam konstruksi, operasi, dan pemeliharaan pembangkit listrik tenaga bayu yang ada membangun basis keahlian. Universitas dan lembaga riset termasuk Politeknik Negeri Bandung melakukan riset dan pengembangan pada desain turbin yang dioptimalkan untuk kondisi Indonesia.[2] Manufaktur lokal untuk menara, pondasi, dan sistem elektrikal berkembang mengurangi ketergantungan impor.

Analisis Ekonomi dan Kelayakan Investasi

Evaluasi ekonomi proyek pembangkit listrik tenaga bayu memerlukan analisis komprehensif biaya modal, biaya operasional, aliran pendapatan, dan metrik finansial sepanjang umur proyek 20-25 tahun. Biaya modal untuk pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia berkisar USD 1,1-2,2 juta per MW kapasitas terpasang tergantung skala, lokasi, dan pemilihan teknologi. Rincian biaya meliputi turbin dan peralatan 60-70%, pekerjaan sipil dan pondasi 15-20%, sistem elektrikal dan koneksi jaringan 10-15%, engineering dan pengembangan 5-10%.

Biaya operasional untuk pembangkit listrik tenaga bayu relatif rendah dibandingkan pembangkitan konvensional. Biaya O&M tahunan berkisar 1,5-2% dari investasi modal atau USD 15.000-40.000 per MW per tahun. Komponen biaya utama mencakup pemeliharaan terjadwal (inspeksi, pelumasan, konsumabel), perbaikan tidak terjadwal, asuransi, pajak properti, dan sewa lahan jika berlaku. Pembangkit listrik tenaga bayu tidak memerlukan biaya bahan bakar yang merepresentasikan 70-80% biaya operasional untuk pembangkitan fosil. Studi kelayakan menunjukkan total O&M untuk proyek 1,65 MW mencapai USD 50.000-80.000 per tahun atau sekitar USD 30-50 per MWh yang diproduksi.[3]

Studi kelayakan detail untuk proyek pembangkit listrik tenaga bayu 1,65 MW (5 turbin @ 330 kW) menggunakan software RETScreen menunjukkan kelayakan finansial yang kuat. Dengan total investasi USD 2,795 juta, proyek menghasilkan NPV sebesar USD 2.197.870 pada discount rate 12%. Internal Rate of Return (IRR) pre-tax mencapai 14,3% untuk aset dan 28,8% untuk ekuitas, sementara post-tax IRR sebesar 12,8% untuk aset dan 25,9% untuk ekuitas. Simple payback period 5,5 tahun dan equity payback 6,3 tahun menunjukkan pengembalian yang relatif cepat untuk proyek energi terbarukan.[3]

Tantangan Implementasi dan Hambatan Pengembangan

Karakteristik angin Indonesia dengan kecepatan rata-rata 2-6 m/s termasuk dalam kategori Low Wind Speed (LWS) klasifikasi kelas III-IV menurut skala kecepatan angin. Kondisi ini memerlukan teknologi turbin khusus yang dioptimalkan untuk kondisi angin rendah. Turbin konvensional yang dirancang untuk rezim angin 7-10 m/s berkinerja suboptimal di Indonesia. Turbin LWS dengan diameter rotor lebih besar dan menara lebih tinggi diperlukan untuk menangkap lebih banyak energi pada kecepatan rendah, namun meningkatkan biaya modal.

Integrasi jaringan dan tantangan intermittency memerlukan solusi teknis yang sophisticated. Variabilitas output pembangkit listrik tenaga bayu mengikuti fluktuasi kecepatan angin menciptakan gangguan tegangan dan frekuensi yang memerlukan penguatan jaringan.[6] Jaringan lemah di area terpencil dengan generator diesel yang ada kesulitan mengakomodasi penetrasi angin besar tanpa masalah stabilitas. Sistem penyimpanan energi (baterai atau pumped hydro) diperlukan untuk menghaluskan output namun menambah 20-40% biaya modal. Inverter canggih dengan fungsi grid support (regulasi frekuensi, voltage support) meningkatkan integrasi.[9]

Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu merupakan teknologi energi terbarukan yang terbukti dengan keunggulan signifikan termasuk emisi operasional nol, biaya operasional rendah, efisiensi penggunaan lahan, dan teknologi modern mencapai efisiensi 45%. Indonesia memiliki potensi energi angin masif sebesar 154,6 GW namun pemanfaatan baru mencapai 135 MW atau 0,09% dari total potensi, menunjukkan peluang ekspansi yang sangat besar.[1] Kesuksesan PLTB Sidrap 75 MW dan Jeneponto 60 MW di Sulawesi Selatan membuktikan kelayakan teknis dan ekonomis proyek pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia.[4] Target pemerintah 255 MW pada tahun 2025 dan 5 GW pada tahun 2030 ambisius namun dapat dicapai dengan dukungan kebijakan yang tepat, fasilitasi investasi, dan koordinasi stakeholder.[13]

Rekomendasi untuk berbagai stakeholder dalam mendukung pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia. Pemerintah harus menyederhanakan proses perizinan dengan menciptakan one-stop-shop approval, menyediakan dukungan pembiayaan melalui green banks atau jaminan, meningkatkan infrastruktur jaringan di lokasi potensial, menjaga konsistensi kebijakan tarif yang memberikan kepastian investor, dan berinvestasi dalam program capacity building.[14] Developer harus fokus pada due diligence menyeluruh, membangun hubungan komunitas yang kuat, bermitra dengan pemain internasional berpengalaman, mengamankan pembiayaan jangka panjang sejak awal, dan mengembangkan rantai pasokan lokal.

Pertanyaan yang Sering Diajukan: Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia


1. Berapa potensi energi angin Indonesia dan berapa yang sudah dimanfaatkan?
Indonesia memiliki total potensi energi angin sebesar 154,6 GW yang terdiri dari 60,4 GW potensi darat dan 94,2 GW potensi laut. Namun pemanfaatan saat ini baru mencapai 135 MW dari PLTB Sidrap (75 MW) dan PLTB Jeneponto (60 MW) di Sulawesi Selatan, atau kurang dari 0,1% dari total potensi yang tersedia. Pemerintah menargetkan kapasitas mencapai 255 MW pada tahun 2025 dan 5 GW pada tahun 2030.

2. Berapa biaya investasi untuk membangun pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia?
Biaya investasi pembangkit listrik tenaga bayu berkisar USD 1,1-2,2 juta per MW kapasitas terpasang atau sekitar IDR 17-34 miliar per MW. Untuk proyek 10 MW, total investasi yang diperlukan sekitar USD 11-22 juta. Biaya mencakup turbin (60-70%), pekerjaan sipil (15-20%), sistem elektrikal (10-15%), dan engineering (5-10%). Biaya operasional tahunan sekitar 1,5-2% dari investasi modal.

3. Berapa payback period dan IRR untuk investasi pembangkit listrik tenaga bayu?
Berdasarkan analisis kelayakan, proyek pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia menunjukkan payback period 5,5-12 tahun tergantung skala dan struktur pembiayaan. Proyek 1,65 MW menunjukkan pre-tax equity IRR 28,8% dan post-tax equity IRR 25,9%, dengan NPV USD 2,2 juta. Proyek skala lebih besar 10-50 MW umumnya mencapai IRR 12-18% dan payback 8-13 tahun.

4. Di mana lokasi terbaik untuk pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia?
Lokasi terbaik adalah wilayah dengan kecepatan angin rata-rata minimum 5 m/s. Area prospektif meliputi: (1) Sulawesi Selatan (Sidrap, Jeneponto) dengan 7-8 m/s - sudah beroperasi; (2) Nusa Tenggara Barat (Bima) dengan 6,4 m/s; (3) Nusa Tenggara Timur dengan 5-7 m/s; (4) Aceh dengan 5,15 m/s; (5) Jawa Timur (Banyuwangi); (6) Kalimantan Selatan (Tanah Laut).

5. Berapa efisiensi turbin angin dan capacity factor di Indonesia?
Turbin angin modern mencapai koefisien daya 0,45 atau efisiensi 45%, mendekati Betz Limit teoritis sebesar 59,3%. Capacity factor pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia berkisar 20-30% karena kecepatan angin rata-rata yang relatif rendah (2-6 m/s). Ini berarti turbin beroperasi pada kapasitas optimal hanya 20-30% dari total waktu per tahun. Wilayah dengan angin lebih kuat seperti Sulawesi Selatan dapat mencapai capacity factor 30-35%.

Referensi dan Sumber Teknis

1. Jurnal Review Potensi Energi Angin untuk Pengembangan PLTB di Indonesia (2025). Review komprehensif potensi energi angin di berbagai wilayah Indonesia, metode pengukuran, dan lokasi pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu.
https://id.scribd.com/document/729799681/Jurnal-Review-potensi-Energi-Angin-Untuk-Pengembangan-PLTB-di-Indonesia

2. Setiawan, I.M., Mursanto, W.B., & Maridjo. (2024). Perancangan Turbin Tipe Horizontal untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu 2,5 MW. Jurnal Teknologi Energi Politeknik Negeri Bandung, Vol. 13 No. 2.
https://jurnal.polban.ac.id/energi/article/view/6165/3839

3. Nashar, M. (2015). Analisis Kelayakan Bisnis Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia Menggunakan Software RETSCREEN. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis Universitas Mercu Buana, Volume 1, Nomor 1.
https://media.neliti.com/media/publications/96550-ID-none.pdf

4. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2018). Selain Sidrap, Berikut Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang Ditargetkan Segera Beroperasi.
https://www.esdm.go.id/id/berita-unit/direktorat-jenderal-ebtke/selain-sidrap-berikut-pembangkit-listrik-tenaga-angin-yang-ditargetkan-segera-beroperasi-1

5. Putri, R., Hasibuan, A., Ezwarsyah, dkk. (2022). Pembangkit Listrik Tenaga Bayu sebagai Sumber Alternatif di Indonesia. Jurnal RELE Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Vol. 2, No. 2.
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/RELE/article/download/10788/7346

6. Nur, M.F., dkk. (2022). Studi Optimasi Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Melalui Pemilihan Jenis Generator untuk Stabilitas Sistem Tenaga Listrik. Jurnal Eksitasi, Universitas Hasanuddin.
https://journal.unhas.ac.id/index.php/eksitasi/article/view/20644/8085

7. Hidayat, A. (2024). Perancangan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Bayu untuk Penerangan Dermaga. Universitas Medan Area.
https://repositori.uma.ac.id/jspui/bitstream/123456789/23606/1/178120032%20-%20Aldi%20Hidayat%20-%20Fulltext.pdf

8. Jurnal Warunayama. (2022). Analisis Potensi Angin Menggunakan Kincir Angin sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Indonesia.
https://ejournal.warunayama.org/index.php/kohesi/article/download/1282/1210/4047

9. Universitas Gadjah Mada. (2023). Peningkatan Kestabilan Transient pada Turbin Angin Berbasis DFIG.
https://jurnal.ugm.ac.id/v3/JNTETI/article/download/5031/2047

10. Sinaga, S.H. (2025). Perbandingan Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Bayu dan Surya di Area Pesisir. Jurnal Nasional Teknologi Komputer.
https://publikasi.hawari.id/index.php/jnastek/article/view/188

11. Afidah, Z. (2023). Analisis Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu di Banyuwangi Menggunakan Data BMKG.
https://ejournal.up45.ac.id/index.php/Jurnal_ENGINE/article/view/1325

12. Abdillah, M.R. (2024). Perancangan dan Pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu untuk Kapal. Jurnal Energi Terbarukan UNDIP.
https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jebt/article/view/22991

13. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral & PLN. Laporan resmi tentang target pengembangan dan implementasi pembangkit listrik tenaga bayu di Indonesia 2021-2025.
https://p3tkebt.esdm.go.id/pilot-plan-project/energi_angin

14. Indonesia.go.id. (2024). Menggali Potensi Angin: Langkah Indonesia Menuju Energi Terbarukan.
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8719/menggali-potensi-angin-langkah-indonesia-menuju-energi-terbarukan

15. KBR.id. (2021). Tahun Ini, PLN Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin Pertama di Jawa.
https://kbr.id/articles/indeks/tahun_ini__pln_bangun_pembangkit_listrik_tenaga_angin_pertama_di_jawa

SUPRA International

Layanan Engineering dan Pengembangan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu

SUPRA International menyediakan layanan konsultasi engineering komprehensif dan pengembangan proyek untuk fasilitas pembangkit listrik tenaga bayu serta sistem energi terbarukan di seluruh Indonesia. Keahlian kami mencakup penilaian sumber daya angin dan studi kelayakan, pemilihan teknologi turbin dan optimasi micrositing, perizinan lingkungan dan kepatuhan regulasi, pemodelan finansial dan strukturisasi investasi, serta pengiriman proyek turnkey untuk perusahaan jasa energi dan investor.

Mempertimbangkan pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu untuk organisasi Anda?
Hubungi SUPRA International untuk mendiskusikan penilaian lokasi, evaluasi teknologi, kelayakan finansial, strategi perizinan, dan dukungan implementasi proyek full-cycle dari konsep awal hingga penyerahan operasi komersial

Share:

← Previous Next →

Jika Anda menghadapi tantangan dalam air, limbah, atau energi, SUPRA siap mendukung. Tim kami membantu meningkatkan keandalan, memastikan kepatuhan, meningkatkan efisiensi, dan mengendalikan biaya. Bersama, kita menentukan fase layanan lifecycle yang paling sesuai untuk kebutuhan proyek Anda.