EN / ID
About Supra

Penerapan Water Balance untuk Perusahaan Daerah Air Minum Indonesia: Kerangka Metodologi, Kepentingan Strategis, dan Panduan Operasional untuk Pengelolaan Air yang Tidak Menghasilkan Pendapatan secara Berkelanjutan

Category: Air
Date: Sep 21st 2025
Implementasi Water Balance untuk Perusahaan Daerah Air Minum Indonesia: Kerangka Metodologi, Kepentingan Strategis, dan Pedoman Operasional untuk Pengelolaan NRW Berkelanjutan

Waktu Baca: 16 menit

Poin Utama

Kerangka Utility of the Future: Program Utility of the Future dari Bank Dunia membawa utilitas air dan sanitasi melampaui tingkat berikutnya, dengan utilitas Indonesia seperti Perumda Tirta Musi di Palembang mengimplementasikan kerangka ini untuk meningkatkan kinerja operasional.

Metodologi Water Balance IWA: Water Balance dari International Water Association, pertama kali dipublikasikan tahun 2000, menyediakan pendekatan standar yang diakui secara global untuk mengukur dan menganalisis kehilangan air dalam sistem distribusi, membagi System Input Volume menjadi Authorized Consumption dan Water Losses.

Kewajiban Pemerintah Daerah: Pemerintah daerah Indonesia memiliki kewajiban konstitusional untuk memenuhi hak warga terhadap air bersih melalui pengelolaan PDAM dan pengembangan infrastruktur yang tepat.

Tantangan Ketahanan Iklim: Studi menunjukkan pentingnya pengelolaan utilitas air berkelanjutan dalam menghadapi dampak perubahan iklim, dengan komunitas menunjukkan kemauan untuk mendanai utilitas air yang tahan iklim.

Ringkasan Eksekutif

Water Balance mewakili alat fundamental dalam manajemen utilitas air yang dikembangkan oleh International Water Association untuk mengukur, menganalisis, dan mengelola aliran air dalam sistem distribusi dari titik input hingga konsumsi pelanggan akhir. Untuk Perusahaan Daerah Air Minum Indonesia (PDAM), implementasi Water Balance menjadi semakin penting untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengelola tingkat Air Non-Pendapatan.[5] Metodologi Water Balance IWA, pertama kali dipublikasikan tahun 2000, menyediakan kerangka standar internasional yang membagi System Input Volume menjadi Authorized Consumption dan Water Losses, dengan Water Losses lebih lanjut dibagi menjadi Apparent Losses (kehilangan komersial) dan Real Losses (kehilangan fisik).

Program Utility of the Future dari Bank Dunia menunjukkan bagaimana utilitas air dan sanitasi dapat maju melampaui operasi tradisional melalui peningkatan kinerja sistematis dan pendekatan manajemen inovatif.[2] Utilitas Indonesia seperti Perumda Tirta Musi di Palembang telah mulai mengimplementasikan kerangka ini sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk meningkatkan kinerja utilitas air urban.[1] Namun demikian, tantangan implementasi tetap substansial, memerlukan perhatian pada pengembangan kapasitas teknis, sistem manajemen data, dan kerangka kelembagaan yang mendukung praktik water balance berkelanjutan di seluruh PDAM Indonesia.

Analisis komprehensif ini mengkaji metodologi Water Balance IWA, mengeksplorasi aplikasinya dalam konteks Indonesia, meninjau inisiatif dukungan internasional termasuk program percontohan Bank Pembangunan Asia, dan memberikan rekomendasi strategis untuk implementasi berkelanjutan di seluruh utilitas air regional Indonesia. Kerangka ini menawarkan pendekatan terbukti untuk menangani tantangan air non-pendapatan sembari membangun kapasitas kelembagaan untuk keunggulan operasional jangka panjang dan peningkatan penyediaan layanan.

Fundamental dan Metodologi Water Balance IWA

Diagram Water Balance IWA

Water Balance dari International Water Association mewakili metodologi komprehensif yang mengkuantifikasi semua komponen aliran air dalam sistem distribusi utilitas air. Berdasarkan praktik terbaik dari banyak negara, IWA Water Loss Task Force pertama dan Performance Indicators Task Force menghasilkan pendekatan standar untuk kalkulasi Water Balance dengan definisi semua istilah yang terlibat. Water Balance yang pertama kali dipublikasikan tahun 2000 menandai langkah maju besar dan kini digunakan serta direkomendasikan oleh konsultan, utilitas, organisasi teknis, regulator, dan lembaga pembiayaan internasional di semakin banyak negara.[7]

System Input Volume dibagi menjadi dua kategori utama: Authorized Consumption (termasuk konsumsi resmi yang ditagih dan tidak ditagih) dan Water Losses. Water Losses lebih lanjut dibagi menjadi Apparent Losses, yang mencakup konsumsi tidak sah, ketidakakuratan meteran pelanggan, dan kesalahan penanganan data sistematis, serta Real Losses, yang terdiri dari kebocoran pada saluran transmisi dan distribusi, kebocoran dan luapan di tangki penyimpanan, dan kebocoran pada sambungan layanan hingga meteran pelanggan. Klasifikasi terstruktur ini memungkinkan utilitas mengidentifikasi area spesifik di mana kehilangan terjadi dan mengembangkan strategi intervensi yang ditargetkan.

Karena interpretasi istilah Unaccounted for Water (UFW) yang sangat bervariasi di seluruh dunia, direkomendasikan pada tahun 2000 agar istilah tersebut dihentikan, dan UFW kini jarang digunakan secara internasional. Berbagai paket perangkat lunak water balance yang berbasis pada Water Balance IWA telah diperkenalkan dan digunakan di tingkat Nasional, Negara Bagian, dan Utilitas di negara-negara di sebagian besar wilayah dunia selama 20 tahun terakhir, menunjukkan penerapan praktis dan penerimaan global dari metodologi ini. Riset juga telah membahas adaptasi metodologi untuk sistem dengan pasokan terputus-putus dan tarif flat, memperluas penerapannya ke berbagai konteks operasional.[8]

Struktur Dasar Water Balance IWA:

Komponen System Input Volume:
• Produksi dari semua sumber air (air permukaan, air tanah, air yang dibeli)
• Volume impor dari sistem tetangga jika berlaku
• Diukur di bulk meter pada instalasi pengolahan air dan titik masuk distribusi
• Memerlukan metering akurat dan kalibrasi reguler untuk keandalan
• Harus dihitung terpisah untuk segmen sistem berbeda

Authorized Consumption:
• Billed Authorized Consumption: meteran dan ditagihkan kepada pelanggan
• Unbilled Authorized Consumption: penggunaan sah yang tidak ditagih (pemadam kebakaran, flushing sistem, sambungan sosial)
• Memerlukan metering pelanggan akurat dan data sistem penagihan
• Konsumsi tidak ditagih sering diestimasi berdasarkan catatan operasional

Water Losses - Apparent Losses:
• Konsumsi tidak sah: sambungan ilegal dan bypass meteran
• Ketidakakuratan meteran pelanggan: pencatatan kurang karena usia atau malfungsi meteran
• Kesalahan penanganan data sistematis: kesalahan sistem penagihan dan kesalahan pembacaan meteran yang tidak diperbaiki
• Memerlukan intervensi komersial dan administratif untuk pengurangan

Water Losses - Real Losses:
• Kebocoran pada saluran transmisi dan distribusi
• Kebocoran dan luapan di tangki penyimpanan utilitas
• Kebocoran pada sambungan layanan hingga titik meteran pelanggan
• Memerlukan perbaikan infrastruktur dan manajemen tekanan untuk pengurangan

Kerangka Utility of the Future dari Bank Dunia

Program Utility of the Future dari Bank Dunia mewakili pendekatan komprehensif untuk membawa utilitas air dan sanitasi melampaui tingkat kinerja dan penyediaan layanan berikutnya.[4] Kerangka ini mengakui bahwa utilitas air modern harus maju melampaui model operasional tradisional untuk memenuhi tantangan kontemporer termasuk kelangkaan air, dampak perubahan iklim, kemajuan teknologi, dan ekspektasi pelanggan yang berubah. Program ini menyediakan sumber daya komprehensif dan bantuan teknis untuk membantu utilitas mentransformasi operasi mereka dan mencapai standar kinerja yang lebih tinggi.

Di Indonesia, kerangka Utility of the Future telah diimplementasikan melalui studi kasus yang berfokus pada peningkatan utilitas air urban. Riset yang dipublikasikan pada 2025 mengkaji implementasi kerangka ini dalam konteks Indonesia, dengan fokus spesifik pada Perumda Tirta Musi di Palembang.[1] Studi kasus ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana utilitas air regional Indonesia dapat mengadopsi kerangka manajemen internasional untuk meningkatkan kinerja operasional dan penyediaan layanan sembari mengadaptasi pendekatan ke konteks kelembagaan dan regulasi lokal.

Water Centre telah mendokumentasikan upaya menuju penciptaan utilitas air masa depan di Indonesia, menyoroti potensi transformatif dari program peningkatan utilitas sistematis.[3] Inisiatif ini menunjukkan bahwa PDAM Indonesia dapat mencapai peningkatan kinerja signifikan melalui adopsi praktik terbaik internasional yang diadaptasi ke kondisi lokal. Implementasi memerlukan pendekatan komprehensif yang menangani efisiensi operasional, keberlanjutan finansial, kualitas layanan pelanggan, pengelolaan lingkungan, dan kapasitas kelembagaan, dengan metodologi Water Balance membentuk komponen diagnostik kritis.

Kepentingan Strategis dalam Konteks Indonesia

Untuk Perusahaan Daerah Air Minum Indonesia, implementasi Water Balance memiliki kepentingan strategis untuk berbagai alasan yang saling terkait yang mempengaruhi kinerja operasional, keberlanjutan finansial, dan kualitas penyediaan layanan. Metodologi ini menyediakan kerangka sistematis untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menganalisis komponen Air Non-Pendapatan, memungkinkan PDAM memahami distribusi proporsional antara Real Losses (kehilangan fisik) dan Apparent Losses (kehilangan komersial) yang memerlukan pendekatan intervensi berbeda.

Pemerintah daerah di Indonesia memiliki kewajiban konstitusional untuk memenuhi hak warga terhadap air bersih. PDAM berfungsi sebagai mekanisme kelembagaan utama di mana pemerintah daerah menunaikan kewajiban ini, membuat manajemen utilitas yang efektif esensial untuk memastikan akses yang adil ke layanan air bersih di seluruh komunitas Indonesia. Water Balance menyediakan informasi kritis untuk optimalisasi kinerja operasional PDAM, memungkinkan identifikasi area inefisiensi yang mempengaruhi produktivitas aset dan keberlanjutan finansial.

Metodologi ini memfasilitasi pengukuran kinerja terhadap benchmark internasional dan mendukung kalkulasi biaya kehilangan air termasuk biaya produksi untuk pengolahan, pemompaan, dan bahan kimia, serta biaya peluang dari pemanfaatan kapasitas produksi yang suboptimal. Dengan mengkuantifikasi potensi pendapatan yang hilang karena Air Non-Pendapatan, Water Balance memungkinkan pengembangan kasus bisnis yang solid untuk investasi program pengurangan NRW, menunjukkan pengembalian yang diharapkan yang dapat membenarkan pengeluaran peningkatan infrastruktur kepada manajemen utilitas dan badan pengawas pemerintah.

Dukungan Bank Pembangunan Asia untuk Implementasi

Bank Pembangunan Asia telah meluncurkan kegiatan percontohan dan demonstrasi untuk memperkenalkan Metodologi Water Balance IWA di lima negara yang mewakili lima wilayah operasi ADB, mempromosikan pendekatan standar untuk mengukur air non-pendapatan dan meningkatkan kapasitas serta adopsi ke operasi masing-masing.[6] Inisiatif ini mengakui bahwa Metodologi Water Balance IWA mewakili praktik terbaik internasional yang diakui untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menganalisis kehilangan air.

Melalui kegiatan percontohan dan demonstrasi setahun ini, operator air yang berpartisipasi menerima penilaian praktik manajemen NRW mereka saat ini, pelatihan dasar dan lanjutan serta lokakarya tentang Metodologi Water Balance IWA, dan pengembangan alat pengukuran, pelaporan, dan pemantauan yang sesuai dengan metodologi. Dengan inisiatif ini, operator akan dapat meningkatkan penggunaan sumber daya terbatas mereka melalui pilihan investasi yang lebih tepat berdasarkan identifikasi kehilangan air dan solusi yang lebih baik.

Inisiatif ADB menunjukkan pengakuan komunitas pembangunan internasional terhadap pentingnya metodologi Water Balance untuk peningkatan kinerja utilitas air di wilayah Asia-Pasifik. PDAM Indonesia dapat memperoleh manfaat dari inisiatif pengembangan kapasitas regional ini dan platform berbagi pengetahuan yang memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman utilitas di negara tetangga yang menghadapi tantangan serupa. Akses ke material pelatihan standar, alat perangkat lunak, dan jaringan peer learning mengurangi hambatan implementasi dan mempercepat adopsi praktik terbaik.

Persyaratan Data dan Metodologi Kalkulasi

Implementasi Water Balance di PDAM Indonesia memerlukan pendekatan sistematis yang dimulai dengan audit data komprehensif untuk mengidentifikasi ketersediaan, akurasi, dan kesenjangan dalam sistem informasi manajemen air. Tahap pertama melibatkan penetapan System Input Volume melalui verifikasi dan kalibrasi bulk meter di intake, instalasi pengolahan air, dan titik masuk ke sistem distribusi. Pengukuran produksi akurat membentuk fondasi untuk semua kalkulasi water balance berikutnya dan memerlukan investasi dalam infrastruktur metering yang andal dan protokol pemeliharaan reguler.

Metodologi IWA menekankan bahwa komponen water balance harus selalu dihitung sebagai volume sebelum upaya apa pun dilakukan untuk menghitung indikator kinerja. Pendekatan berbasis volume ini memastikan konsistensi dan memungkinkan perbandingan akurat di berbagai periode waktu dan antara utilitas berbeda. Batas kepercayaan harus ditetapkan untuk setiap komponen water balance, dengan tingkat kepercayaan tinggi untuk produksi bulk dan konsumsi yang ditagih memiliki margin error 1 hingga 3 persen, sementara komponen dengan tingkat kepercayaan lebih rendah mungkin memiliki margin error lebih besar yang memerlukan pengakuan dalam pelaporan dan interpretasi.

Persyaratan data utama mencakup data produksi dari semua sumber air, volume impor dan ekspor jika berlaku, data konsumsi yang ditagih dari sistem informasi pelanggan, dan konsumsi resmi tidak ditagih untuk tujuan operasional dan sambungan sosial. Persyaratan data sekunder mencakup panjang pipa total, jumlah sambungan layanan, tekanan operasi, profil usia infrastruktur, dan data historis tentang kebocoran yang dilaporkan dan perbaikan kebocoran. Pengumpulan dan validasi elemen data ini memungkinkan kalkulasi water balance komprehensif dan identifikasi prioritas peningkatan.

Tantangan dan Persyaratan Implementasi:

Tantangan Kapasitas Teknis:
• Pemahaman terbatas tentang kerangka Water Balance IWA di kalangan staf PDAM
• Keterampilan tidak memadai dalam teknik pengumpulan, validasi, dan analisis data
• Kurangnya kemahiran dalam perangkat lunak dan alat analitis water balance
• Kebutuhan pelatihan dalam menginterpretasikan hasil dan mengembangkan rencana aksi
• Kesenjangan pengetahuan tentang praktik terbaik untuk pengurangan NRW

Tantangan Manajemen Data:
• Metering produksi yang tidak lengkap atau tidak akurat di sumber air
• Data konsumsi pelanggan yang tidak dapat diandalkan dari sistem penagihan
• Kurangnya sistem manajemen aset yang melacak jaringan pipa dan sambungan
• Informasi infrastruktur yang hilang atau ketinggalan zaman (usia, material, kondisi)
• Pemantauan parameter operasional yang tidak memadai (tekanan, aliran)
• Kapasitas terbatas untuk kontrol dan validasi kualitas data

Tantangan Kelembagaan:
• Ketiadaan tim water balance khusus dengan tanggung jawab jelas
• Kurangnya prosedur operasi standar untuk kalkulasi dan pelaporan
• Integrasi tidak memadai dengan prosedur operasional yang ada
• Sistem pemantauan kinerja lemah yang melacak kemajuan pengurangan NRW
• Koordinasi terbatas antara departemen teknis dan komersial

Integrasi Teknologi dan Transformasi Digital

Modernisasi sistem informasi manajemen dan integrasi teknologi digital merupakan enabler kritis untuk implementasi water balance yang efektif, memungkinkan PDAM untuk mengotomatisasi pengumpulan data, meningkatkan akurasi kalkulasi, dan memfasilitasi pemantauan real-time dari indikator kinerja kunci. Sistem Informasi Pelanggan Terintegrasi yang menyediakan data penagihan akurat dan tepat waktu membentuk fondasi untuk memahami pola konsumsi dan mengidentifikasi kehilangan semu dari ketidakakuratan meteran dan kesalahan penagihan.

Sistem SCADA untuk pemantauan real-time parameter produksi dan distribusi memungkinkan pelacakan berkelanjutan volume input sistem dan identifikasi anomali yang menunjukkan kebocoran potensial atau konsumsi tidak sah. Sistem Informasi Geografis untuk mengelola aset jaringan mendukung analisis spasial kehilangan, membantu utilitas mengidentifikasi area masalah dan memprioritaskan intervensi infrastruktur. Infrastruktur metering lanjutan meningkatkan akurasi pengukuran konsumsi dan memungkinkan deteksi perusakan meteran atau situasi bypass yang berkontribusi pada kehilangan semu.

Strategi implementasi untuk integrasi teknologi harus mempertimbangkan dengan hati-hati kendala affordabilitas dan keterbatasan kapasitas teknis dari banyak PDAM Indonesia, memerlukan pendekatan bertahap yang memprioritaskan solusi berdampak tinggi dan hemat biaya sebelum maju ke teknologi yang lebih canggih. Aplikasi mobile untuk pengumpulan data lapangan dan pelaporan real-time dapat memberikan manfaat signifikan dengan biaya yang relatif sederhana, sementara algoritma kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin untuk analitik prediktif mewakili peluang adopsi teknologi jangka panjang seiring berkembangnya kapasitas kelembagaan.

Ketahanan Iklim dan Pembiayaan Berkelanjutan

Dampak perubahan iklim menciptakan tantangan baru bagi utilitas air Indonesia yang memerlukan strategi adaptasi dan investasi dalam infrastruktur tahan iklim. Komunitas mengakui pentingnya pengelolaan utilitas air berkelanjutan dan menunjukkan kemauan untuk mendukung investasi yang meningkatkan ketahanan utilitas terhadap risiko terkait iklim. Implementasi Water Balance berkontribusi pada ketahanan iklim dengan memungkinkan utilitas mengidentifikasi dan mengurangi kehilangan air, sehingga meningkatkan efisiensi sistem dan mengurangi kerentanan terhadap kelangkaan air selama periode kekeringan.

Dengan memahami di mana air hilang dalam sistem distribusi, utilitas dapat memprioritaskan peningkatan infrastruktur yang meningkatkan ketahanan sembari memberikan manfaat operasional dan finansial langsung. Metodologi Water Balance mendukung pengembangan rencana investasi prioritas dengan mengkuantifikasi besaran dan lokasi kehilangan air, memungkinkan utilitas untuk menargetkan intervensi di mana mereka akan memberikan dampak terbesar per rupiah yang diinvestasikan. Pendekatan berbasis bukti untuk perencanaan investasi ini meningkatkan bankability proyek peningkatan utilitas air.

Metodologi ini memfasilitasi akses ke pembiayaan dari anggaran pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, dan berpotensi sumber sektor swasta dengan menyediakan data objektif yang menunjukkan pengembalian yang diharapkan dari investasi yang diusulkan. Kuantifikasi yang jelas dari biaya kehilangan air dan penghematan potensial dari program pengurangan memungkinkan utilitas membangun kasus finansial yang menarik untuk proyek peningkatan infrastruktur yang mungkin kesulitan bersaing untuk sumber daya publik yang terbatas.

Kerangka Regulasi dan Dukungan Kebijakan

Implementasi Water Balance di Indonesia beroperasi dalam kerangka regulasi multi-level yang menetapkan standar kinerja, persyaratan pelaporan, dan pengaturan kelembagaan untuk tata kelola utilitas air. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab utama untuk pengawasan PDAM dan pemantauan kinerja, menciptakan lingkungan regulasi yang dapat memfasilitasi atau membatasi adopsi water balance tergantung pada prioritas kebijakan dan pendekatan penegakan. Kebijakan dan pedoman nasional menyediakan kerangka untuk operasi utilitas air sembari memungkinkan fleksibilitas untuk adaptasi regional ke kondisi lokal.

Harmonisasi standar dan metodologi di berbagai yurisdiksi memfasilitasi perbandingan dan benchmarking antar PDAM, memungkinkan identifikasi praktik terbaik dan pembelajaran dari utilitas berkinerja tinggi. Hasil Water Balance dapat menjadi komponen integral dari proses penilaian kinerja dan perencanaan strategis, menyediakan data objektif untuk mengevaluasi efektivitas manajemen utilitas dan mengidentifikasi area prioritas untuk intervensi peningkatan.

Dukungan kebijakan untuk implementasi water balance memerlukan pengakuan oleh otoritas pemerintah terhadap nilai metodologi untuk meningkatkan kinerja utilitas dan mencapai tujuan kebijakan terkait akses air, kualitas layanan, dan keberlanjutan finansial. Kerangka regulasi yang mengamanatkan pelaporan water balance, menetapkan target kinerja untuk pengurangan NRW, dan memberikan insentif untuk utilitas yang mencapai tujuan peningkatan dapat mempercepat adopsi dan memastikan komitmen implementasi berkelanjutan.

Rekomendasi Strategis untuk Implementasi

Implementasi water balance yang berhasil memerlukan pendekatan komprehensif yang menangani pengembangan kapasitas teknis, peningkatan sistem manajemen data, integrasi teknologi, dan pengaturan kelembagaan yang mendukung praktik berkelanjutan. PDAM Indonesia harus memprioritaskan pembentukan tim water balance khusus dengan peran dan tanggung jawab jelas, didukung oleh program pelatihan komprehensif yang membangun kompetensi dalam metodologi IWA, analisis data, dan perencanaan peningkatan kinerja.

Pengembangan Prosedur Operasi Standar untuk semua aspek kalkulasi dan pelaporan water balance memastikan konsistensi dan keberlanjutan melampaui anggota staf individual. Integrasi kegiatan water balance dengan prosedur operasional yang ada dan siklus perencanaan menanamkan metodologi dalam operasi utilitas normal daripada memperlakukannya sebagai kegiatan terpisah atau opsional. Pembentukan sistem pemantauan kinerja yang melacak kemajuan dalam pengurangan NRW menciptakan akuntabilitas dan mempertahankan fokus pada peningkatan berkelanjutan.

Pemerintah daerah harus menciptakan lingkungan yang memungkinkan melalui kerangka regulasi yang tepat, dukungan pendanaan yang memadai, dan sistem pemantauan kinerja yang memberikan insentif untuk keunggulan operasional. Mitra pembangunan termasuk Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia menyediakan bantuan teknis dan peluang pembiayaan berharga yang harus dikejar secara aktif oleh utilitas Indonesia. Partisipasi dalam jaringan berbagi pengetahuan regional memungkinkan pembelajaran dari utilitas sejawat dan akses ke sumber daya implementasi yang mengurangi hambatan adopsi.

Kesimpulan

Implementasi Water Balance mewakili fondasi esensial untuk meningkatkan kinerja Perusahaan Daerah Air Minum Indonesia melalui pengukuran, analisis, dan pengelolaan sistematis aliran air dalam sistem distribusi. Metodologi Water Balance IWA menyediakan kerangka terbukti yang telah berhasil diterapkan oleh utilitas di seluruh dunia dan kini dipromosikan di wilayah Asia-Pasifik melalui inisiatif termasuk kegiatan percontohan dan demonstrasi Bank Pembangunan Asia.

Utilitas Indonesia telah mulai mengimplementasikan kerangka Utility of the Future dari Bank Dunia, menunjukkan bahwa peningkatan utilitas sistematis dapat dicapai ketika didukung oleh bantuan teknis yang tepat dan komitmen kelembagaan. Metodologi Water Balance membentuk komponen kritis dari upaya transformasi ini dengan menyediakan alat diagnostik yang diperlukan untuk memahami kinerja saat ini dan memandu intervensi peningkatan. Dampak perubahan iklim dan kendala fiskal menggarisbawahi pentingnya pendekatan hemat biaya berbasis bukti yang memberikan hasil terukur dalam sumber daya yang tersedia.

Ke depan, PDAM Indonesia harus memprioritaskan implementasi water balance sebagai kapasitas dasar yang memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data dan peningkatan kinerja berkelanjutan. Dengan dukungan dari mitra pembangunan dan komitmen dari pemerintah daerah, utilitas Indonesia dapat membangun kapabilitas yang diperlukan untuk mencapai standar kinerja internasional sembari melayani komunitas mereka secara efektif dan berkelanjutan. Kesuksesan memerlukan upaya berkelanjutan, tetapi manfaat dalam efisiensi operasional, keberlanjutan finansial, dan kualitas penyediaan layanan membuat implementasi water balance sebagai investasi esensial untuk pengembangan sektor air Indonesia.

Referensi

1. SREES (2025). Enhancing urban water utilities: case study of Utility of the Future framework implementation in Indonesia.
https://srees.sggw.edu.pl/article/view/9849

2. World Bank (2023). Utility of the Future - Taking Water and Sanitation Utilities Beyond the Next Level.
https://projects.worldbank.org/en/results/2023/09/18/utility-of-the-future-taking-water-and-sanitation-utilities-beyond-the-next-leve

3. Water Centre. Whoosh! Creating water utilities of the future in Indonesia.
https://watercentre.org/blog/whoosh-creating-water-utilities-of-the-future-in-indonesia/

4. World Bank. Utility of the Future Program - Official program resources and documentation.
https://www.worldbank.org/en/topic/water/publication/utility-of-the-future

5. International Water Association. IWA Water Balance Methodology - Standard terminology and methodology first published in 2000.
https://www.leakssuitelibrary.com/iwa-water-balance/

6. Asian Development Bank. Pilot Application of IWA Water Balance Methodology - Five-country pilot and demonstration initiative.
https://www.adb.org/results/pilot-application-iwa-water-balance-methodology

7. Aqua Analytics. Using The IWA Water Balance To Understand Your Water Loss - Technical explanation of methodology application.
https://aquaanalytics.com.au/resources/using-the-iwa-water-balance-to-understand-your-water-loss/

8. IWA Publishing (2017). Adapting the IWA water balance to intermittent water supply - Research on methodology adaptation.
https://iwaponline.com/washdev/article/7/3/396/31617/Adapting-the-IWA-water-balance-to-intermittent

SUPRA International
Peningkatan Kinerja PDAM dan Utilitas Air serta Manajemen NRW

SUPRA International menyediakan layanan konsultasi komprehensif untuk peningkatan kinerja utilitas air, implementasi Water Balance IWA, dan program pengurangan Air Non-Pendapatan. Tim kami mendukung PDAM Indonesia, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan di seluruh penilaian kebutuhan, pengembangan kapasitas, pengembangan sistem manajemen data, dan perencanaan strategis untuk operasi utilitas air berkelanjutan.

Memerlukan panduan ahli untuk implementasi water balance dan strategi pengurangan NRW untuk PDAM?
Hubungi kami untuk mendiskusikan tujuan peningkatan kinerja utilitas dan perencanaan implementasi Anda

Share:

← Previous Next →

Jika Anda menghadapi tantangan dalam air, limbah, atau energi, SUPRA siap mendukung. Tim kami membantu meningkatkan keandalan, memastikan kepatuhan, meningkatkan efisiensi, dan mengendalikan biaya. Bersama, kita menentukan fase layanan lifecycle yang paling sesuai untuk kebutuhan proyek Anda.